Selasa, 15 Januari 2008

Mengapa Yang Tua Yang Bertambah?

KITA adalah orang kuno dan mencintai hal-hal yang kuno (unik), serta orang-orang yang bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan. Yang baru, terkadang terlalu mencemaskan. Itulah alasannya mengapa para petinggi dalam kehidupan sosial, industri dan olah raga tidak banyak orang muda. Itu berarti yang tua bertambah. Tetapi, apakah kita sadar bahwa kita berada di jalan yang benar, menciptakan suatu yang baru, memberikan rasa antusiasme dan membangun suatu yang kompetitif.

Dalam dunia sepak bola juga demikian, terkadang memilih jalan yang lebih ‘aman’, yaitu pengalaman. Tidak hanya dalam level petinggi tetapi juga dalam strategi dan pembentukan tim-tim dari klub-klub yang berbeda. Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk mengingat seorang yang paling revolusioner dalam ‘kepemimpinan dan pelatih’, yang terlahir ketika Berlusconi dan Galliani, dua sosok yang masing-masing berumur 50 dan 43 tahun, mengambil alih Milan.

Mereka menggaji seorang pelatih yang tidak dikenal yang berusia 41 tahun, kemudian Capello yang berusia 45 tahun. Secara bersama-sama mereka membangun sebuah tim yang terdiri dari pemain yang memilki rata-rata berusia 25 tahun. Klub kemudian meraih juara dunia dan sampai sekarang ditulis oleh berbagai harian dan majalah di seluruh dunia sebagai sebuah klub yang paling hebat.

Klub Milan tersebut bukan hanya meraih kemenangan tetapi meiliki antusiasme karena kualitas dan memberikan terobosan baru dalam penampilannya. Spirit peremajaan, kemauan untuk tampil mengagumkan, kebugaran dan hasil yang diraih klub ini. Selain itu, juga memiliki kualitas teknik dan fisik yang luast biasa, yang merupakan fundamen untuk mengembangkannya secara lebih hebat lagi.

Dari pembaruan tersebut Milan mampu menghasilkan sebuah ‘kebangkitan kembali dalam persepakbolaan’, yang kemudian memengaruhi banyak klub yang lain. Napoli, Juventus, Sampdoria, dan Parma memenangkan UEFA, Coppa delle Coppe (Piala Winners) dan Coppa Campioni (Piala Champion). Musim kompetisi tahun 1989 atau 1990 muncul klub-klub Italia dimana para pemainnya 90 persen berasal dari Italia. Mereka tampil dalam segala kejuaraan dan juga dalam tiga kompetisi tingkat Eropa. Milan di Coppa Campioni, Sampdoria di Coppa delle Copped dan Juventus (final dengan Fiorentina) di UEFA.

Tim-tim tersebut meraih kemenangan bukan hanya karena investasi saja. Saat itu hanya dua atau tiga orang pemain asing dalam setiap klub. Keberhasilan mereka lebih karena memiliki ide, kerja keras, dan inovasi. Cinta terhadap sepak bola, dalam sejarah persepakbolaan kita biarkan sektor remaja kita tumbuh subur dan produktif. Tapi, semua itu kemudian dirusak oleh sebuah kebijakan dimana uang yang diperoleh dari televisi dan strategi Mercato yang liberal memungkinkan klub mendapatkan pemain dari seluruh dunia.

Mari kita berkaca lagi ke Milan tanpa menyepelekan kemenangan yang diraihnya. Sebuah kemenangan yang tidak menumbuhkan semangat baru. Kemenangan demi kemenangan yang diraihnya, meskipun dalam kejuaraan yang bergengsi sekalipun, tidak sanggup menciptakan rasa antusiasme. Kematangan dan pengalaman memang bermanfaat, tetapi sayang tidak dilengkapi oleh kehadiaran para pemain muda dengan ide-ide, keaslian serta kesigapan mereka.

Kini, sudah saatnya untuk merekrut pemain-pemian muda. Kita harus berani untuk merombak struktur yang ada serta pelatih yang bisa berperan sebagai ‘maestro’, yang mampu mengajar. Kita harus mengambil tindakan nyata bahwa sekarang ini terlalu banyak pemain yang berusia 28-30 tahun masih tampil. Banyak dari mereka yang sudah kehilangan gairah, disiplin dan antusiasme. Tidak banyak yang memiliki kondisi fisik yang hebat dan profesionalitas sejati seperti Maldini atau Costacurta. Uang yang diperoleh dari televisi dimanfaatkan untuk membeli segala sesuatu dan semua pemain dari seluruh dunia.

Sudah saatnya kita harus berani merekrut pemain-pemain muda ketika mereka belum dikenal. Sementara itu dipihak lain perlu memilki keyakinan pada permainnan yang menarik, kerja keras dan inovasi. Dengan ini diharapkan bisa memungkinkan pertumbuhan dalam segala aspek sambil tidak menghilangkan akan pentingnya faktor finansial. Tetapi, perlu dicatat bahwa uang hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan pembibitan.

Kita harus percaya pada mimpi yang besar dan berusaha untuk mengubahnya menjadi suatu kenyataan lewat suatu program yang berhubungan dengan kehidupan modern, kemampuan yang dimiliki, dan kesabaran dalam mendampingi para pemain muda berbakat. Tidak boleh dilupakan juga akan pentingnya belajar, krja keras, ide-ide kreatif. Semua akan membuat kita tumbuh secara kolektif dan mampu bersaing dengan siapapun juga, bahkan klub yang melakukan investasi yang jauh lebih besar dari kita tetapi tanpa merebut historis kita. ARRIGO SACCHI (TOPSKOR)

Tidak ada komentar: